Profil

Senin, 28 Oktober 2013

Kurang Siapnya Mendiknas Berimbas



Kurang Siapnya Mendiknas Berimbas
Ditahun 2013 banyak sekali masalah yang terjadi di dunia pendidikan khusunya di Negara kita sendiri yaitu Indonesia. Kebijakan-kebijakan pemerintah dalam menetapkan sistem pendidikan untuk semua kalangan semakin semrawut apalagi saat kita membicarakan tentang kurikulum saat ini. Banyak hal yang bisa membuat pro dan kontra ketika membicarakan hal tersebut yaitu kurikulum.
 Mendiknas dalam merancang kurikulum tahun ini mungkin kurang siap. Ini bias menjadikan aspek aspek pendidikan semakin acak-acakan dan menimbulkan banyak perdebatan dari banyak kalangan. Semua yang ada didalam bidang pendidikan bias terkena imbasnya juga, dari peserta didik, pengajar, ataupun metode pembelajaran.
Miris rasanya jika melihat dampak yang ditimbulkan dari kurikulum saat ini, apalagi melihat peserta didik yang saat ini bias dikatakan hancur, mereka terlihat hanya memenuhi kebutuhan nilai saja. Kecurangan dalam mendapatkan nilai pun bias dilakukan, dan guru tidak begitu peduli dengan hal tersebut. Terlihat jelas dua komponen ini pendidik dan peserta didik senang melakukan sebuah hal yang disebut dengan pencitraan. Kekeliruan ini seharusnya bias diatur ulang pendidik harus lebih tegas lagi dalam melakukan profesinya, jika sudah begitu peserta didik mungkin bias berbenah diri dalam belajar disekolah.
Adajuga kasus mengenai peserta didik yang hanya mementingkan kecerdasan dan soal karakter bias ditinggalkan yang Ia pentingkan hanya untuk majunya Negara. Ini fatal sekali, cerdas tapi tidak berkarakter. Dalam hal ini bias menimbulkan kecemasan dimasa depan, banyak orang yang cerdas namun tak berkarakter. Itu hanya membuat kerusakan, semacam korupsi misal. Pada dasrnya pendidikan karakter itu sangat penting, kita bias memulainya dari organisasi sosial terkecil yaitu keluarga. Dengan adanya karakter yang cukup hebat maka kemajuan atau perkembangan Negara ini bias membaik dan tidak akan dipenuhi sesosok mahluk yang akan bias mempunyai fikiran yang bukur atau negatif.  Pendidikan karakter melalui sekolah sekarang mulai jadi perbincangan dan kecemasan. Kurikulum tahun ini kabarnya mau mentiadakan mulok (muatan lokal) bahasa daerah. Padahal menurut saya itu mata pelajaran sangan berpengaruh besar untuk bias membuat karakter yang sangat hebat karena apa? Karena dimulok bahasa daerah seorang peserta didik tidak hanya akan mendapatkan pelajaran budaya melainkan sikap besrmasyarakat yang sangat baik semisal sopan santun, ramah, baik, dll. Sebenarnya apa tujuan mendiknas mentiadakan muatan lokal atau yang sering disebut mulok ini?. Apa karena jamnya terlalu banyak untuk pelajarn mulok ini?. 2 jam pelajaran atau sekitar 90 menit dalam seminggu rasanya malah kurang. Mendiknas kelihatannya mentiadakan mulok ini karena mereka tidak ingin membuat peserta didik merasa keberatan dengan pelajaran bahasa daerah karena pelajaran ini bisa dipelajarai tanpa mendiksa masukkan dalam kurikulum. Akan tetapi pelajaran ini begitu penting bagi kebudayaan. Bila pelajaran ini punah siapa yang mau meneruskan? Mendiknas?. Tidak mungkin kan?. Mata pelajaran seperti PKn dan Sejarah lambat laun juga semakin disepelekan oleh 3 pihak tersebut (peserta didik, pengajar, mendiknas). Apa jadinya sekolah tanpa Pkn dan sejarah. Hancur rasanya negri ini tanpa pelajaran tersebut ketika berada dalam kawasan sekolah. Serasa bukan berada dinegara sendiri saat PKn dan sejarah mulai disepelekan. Pkn sangatlah penting, nilai-nilai moral dalam pelajatan tersebut sangatlah bermanfaat ketika peserta didik mau bersungguh-sungguh ingin mendalami dan mengerti betul. Dalam PKn juga yang namanya ideologi Negara yang bisa berpengaruh besar terhadap pesertadidik. Ideologi juga mampu menanampan rasa nasionalisme berkewarga negaraan Indonesia. Sila sila dalam pancasila yang juga mulai di abaikan sangat buruk efeknya bagi kemajuan ngeara di masa mendatang. UUD dikesampingkan, terus buat apa membuat peraturan jika tidak dipelajari secara baik. Sepertinya jika ini terus dibiarkan maka dimasa mendatang kriminalitas semakin menanjak.  Begitupula dengan sejarah tanpa pelajaran itu silsilah Negara dimasa lalu tidak akan diketahui oleh pemuda jaman sekarang, perjuangan perjuangan pahlawan dalam mempertahankan Negara kita ketika dijajah, namun bukan itu tetapi semangat dalam memperjuangkannya itu yang merupakan nilai tambah yang harusnya di pelajari oleh peserta didik jaman sekarang. Namun apa?, yang mereka ketahui hanyalah menjadi anak yang cerdas membangun bangsa yang sejahtera. Sejahtera mungkin bisa jadi kalau nanti merekatidak bertampang dua seperti petinggi petinggi sekarang ini, namyak yang cerdas tapi otaknya banyak juga yang cadas (cadas akan kenegatifan). Bawasannya semua pelajaran itu penting namun apalagi yang bisa membuat anak anak di Negara ini bisa terus berkembang namun tidak hanya berkembang di dalam ilmunya tapi juga karakternya. Mata pelajaran yang kelihatannya sepele janganlah diabaikan tapi didalami karena karakter bisa terbentuk disitu, ya seperti yang saya bahas diatas. Namun juga tidak hanya itu seperti Bahasa Indonesia, ini juga sangat penting. Sebab pelajaran ini saya rasa adalah induk dari semua mata pelajaran, didalamnya banyak pengertian tentang berbahasa atau komunikasi yang baik dengan orang lain, tidak hanya itu pula banyak profesi utamanya dinegara Indonesia yang memerluka cara bahasa yang baik dan benar, seperti contohnya saja penulis, musisi, actor, begitu pula dengan guru.
Ada pula beberapa landasan-landasan pendidikan yang harus dikuasai seorang pendidik agar keharmonisan didalam kelas bisa terwujud dengan baik. Aspek-aspek tersebut seperti IPTEK, Psikologis, Sosiologis, dan juga Filosofi. Dari landasan-landasan tersebut IPTEK merupakan satu hal yang wajid dikuasai seorang pendidik tanpa itu seorang pendidik takakan bisa menjadi seseorang yang hebat dimata peserta didik. IPTEK atau bahan ajaran bisa didapat dari manapun, dari buku, dari internet, ataupun  dari seseorang yang lebih mengerti dibidangnya, tergantung pengajar dapat dari mana bahan yang mau disampaikan kepada peserta didik, asal mereka (peserta didik) mampu menerima dan memahaminya dengan seksama ketika materi pembelajaran disampaikan. Kadang seorang peserta didik tidak begitu mengerti apa yang disampaikan oleh seorang pengajar dan seketika mereka bosan dengan apa yang disampaikan oleh pengajar, dalam hal ini pengajar harus sekreatif mungkin ketika menyampaikan materi, semisal tak memberika terus menerus materi, adakalanya seorang pendidik juga memberikan motivasi dalam bentuk cerita, hal itu akan langsung bisa dirasakan peserta didik. Landasan yang lain seperti sosoiologis perlu dikembangkan juga, karena pada dasrnya manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa adanya orang lain, contoh paling sederhana saat berada didalam ruangan kelas yaitu interaksi antara guru dan murid. Dengan demikian sikap sekap seperti egois tidak diharapkan muncul ketika mereka sudah  merasa dewasa nantinya. Pendidik setidaknya juga harus memiliki wawasan tentang  psikologis agar perkembangan kejiwaan seorang peserta didik bisa diketahui, banyak masalah yang dialami pada peserta didik dan pengajar harusnya bisa tau hal tersebut. Pendekatan pada peserta didik yang sedang terkena masalah juga bisa menjadi solusi yang bisa diterapkan pengajar, mungkin dengan memancing peserta didik agar mau menceritakan masalah yang dialaminya. Saat  masalah terpecahkan maka suasana kelas akan kembali kondusif seperti biasanya. Dari beberapa Filosofis merupakan aspek yang menopang landasan landasan diatas tersebut, pendidik harus menyampaikan apa yang telah mereka pelajari, tidak hanya di satu bidang mata pelajaran tapi tentang apa yang bernilai positif berdasarkan kenyataan atau fakta yang ada. Dengan demikian peserta didik diharapkan mampu berpikiran positif dengan  segala sesuatu yang ada.
Bawasannya Mendiknas belum begitu siap dengan kurikulum tahun ini. Merancang kurikulum tak semudah apa yang dibayangkan. Sebaiknya kita tidak harus berfikiran negatif terlebih dahulu. Mendiknas mungkin membutuhkan tanggapan-tanggapan dari kita semua untuk kurikulum mendatang akan tetapi masalahnya bagaimana cara menampun suara suara masyarakat Indonesia tentang menanggapi kurikulum ditahun ini. Kesemrawutan kurikulum tahun ini harus segera juga dituntaskan karena ancamnnya begitu besar dari karakter peserta didik sampai pengajar pun masuk kedalamnya, landasan-landasan pendidikan  juga harus dipertimbangkan dalam membuat kurikulum. Keselarasan pendidik dan peserta didik seharusnya bisa tercapai juga ketika kirikulum sudah benar-benar matang.  Sampai kapanpun pendidikan tidak akan berakhir meski kurikulum yang semrawut ini terjadi di Negara kita saat ini. Harapannya setiap insan pasti akan bisa menyelamatkan pendidikan dimasa mendatang.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar