Kurang
Siapnya Mendiknas Berimbas
Ditahun
2013 banyak sekali masalah yang terjadi di dunia pendidikan khusunya di Negara
kita sendiri yaitu Indonesia. Kebijakan-kebijakan pemerintah dalam menetapkan
sistem pendidikan untuk semua kalangan semakin semrawut apalagi saat kita
membicarakan tentang kurikulum saat ini. Banyak hal yang bisa membuat pro dan
kontra ketika membicarakan hal tersebut yaitu kurikulum.
Mendiknas dalam merancang kurikulum tahun ini mungkin
kurang siap. Ini bias menjadikan aspek aspek pendidikan semakin acak-acakan dan
menimbulkan banyak perdebatan dari banyak kalangan. Semua yang ada didalam
bidang pendidikan bias terkena imbasnya juga, dari peserta didik, pengajar,
ataupun metode pembelajaran.
Miris
rasanya jika melihat dampak yang ditimbulkan dari kurikulum saat ini, apalagi
melihat peserta didik yang saat ini bias dikatakan hancur, mereka terlihat
hanya memenuhi kebutuhan nilai saja. Kecurangan dalam mendapatkan nilai pun
bias dilakukan, dan guru tidak begitu peduli dengan hal tersebut. Terlihat
jelas dua komponen ini pendidik dan peserta didik senang melakukan sebuah hal
yang disebut dengan pencitraan. Kekeliruan ini seharusnya bias diatur ulang
pendidik harus lebih tegas lagi dalam melakukan profesinya, jika sudah begitu
peserta didik mungkin bias berbenah diri dalam belajar disekolah.
Adajuga
kasus mengenai peserta didik yang hanya mementingkan kecerdasan dan soal
karakter bias ditinggalkan yang Ia pentingkan hanya untuk majunya Negara. Ini
fatal sekali, cerdas tapi tidak berkarakter. Dalam hal ini bias menimbulkan
kecemasan dimasa depan, banyak orang yang cerdas namun tak berkarakter. Itu
hanya membuat kerusakan, semacam korupsi misal. Pada dasrnya pendidikan
karakter itu sangat penting, kita bias memulainya dari organisasi sosial terkecil
yaitu keluarga. Dengan adanya karakter yang cukup hebat maka kemajuan atau
perkembangan Negara ini bias membaik dan tidak akan dipenuhi sesosok mahluk
yang akan bias mempunyai fikiran yang bukur atau negatif. Pendidikan karakter melalui sekolah sekarang
mulai jadi perbincangan dan kecemasan. Kurikulum tahun ini kabarnya mau
mentiadakan mulok (muatan lokal) bahasa daerah. Padahal menurut saya itu mata
pelajaran sangan berpengaruh besar untuk bias membuat karakter yang sangat
hebat karena apa? Karena dimulok bahasa daerah seorang peserta didik tidak
hanya akan mendapatkan pelajaran budaya melainkan sikap besrmasyarakat yang
sangat baik semisal sopan santun, ramah, baik, dll. Sebenarnya apa tujuan
mendiknas mentiadakan muatan lokal atau yang sering disebut mulok ini?. Apa
karena jamnya terlalu banyak untuk pelajarn mulok ini?. 2 jam pelajaran atau
sekitar 90 menit dalam seminggu rasanya malah kurang. Mendiknas kelihatannya
mentiadakan mulok ini karena mereka tidak ingin membuat peserta didik merasa
keberatan dengan pelajaran bahasa daerah karena pelajaran ini bisa dipelajarai
tanpa mendiksa masukkan dalam kurikulum. Akan tetapi pelajaran ini begitu
penting bagi kebudayaan. Bila pelajaran ini punah siapa yang mau meneruskan? Mendiknas?.
Tidak mungkin kan?. Mata pelajaran seperti PKn dan Sejarah lambat laun juga
semakin disepelekan oleh 3 pihak tersebut (peserta didik, pengajar, mendiknas).
Apa jadinya sekolah tanpa Pkn dan sejarah. Hancur rasanya negri ini tanpa
pelajaran tersebut ketika berada dalam kawasan sekolah. Serasa bukan berada
dinegara sendiri saat PKn dan sejarah mulai disepelekan. Pkn sangatlah penting,
nilai-nilai moral dalam pelajatan tersebut sangatlah bermanfaat ketika peserta
didik mau bersungguh-sungguh ingin mendalami dan mengerti betul. Dalam PKn juga
yang namanya ideologi Negara yang bisa berpengaruh besar terhadap pesertadidik.
Ideologi juga mampu menanampan rasa nasionalisme berkewarga negaraan Indonesia.
Sila sila dalam pancasila yang juga mulai di abaikan sangat buruk efeknya bagi
kemajuan ngeara di masa mendatang. UUD dikesampingkan, terus buat apa membuat
peraturan jika tidak dipelajari secara baik. Sepertinya jika ini terus
dibiarkan maka dimasa mendatang kriminalitas semakin menanjak. Begitupula dengan sejarah tanpa pelajaran itu
silsilah Negara dimasa lalu tidak akan diketahui oleh pemuda jaman sekarang,
perjuangan perjuangan pahlawan dalam mempertahankan Negara kita ketika dijajah,
namun bukan itu tetapi semangat dalam memperjuangkannya itu yang merupakan
nilai tambah yang harusnya di pelajari oleh peserta didik jaman sekarang. Namun
apa?, yang mereka ketahui hanyalah menjadi anak yang cerdas membangun bangsa
yang sejahtera. Sejahtera mungkin bisa jadi kalau nanti merekatidak bertampang
dua seperti petinggi petinggi sekarang ini, namyak yang cerdas tapi otaknya
banyak juga yang cadas (cadas akan kenegatifan). Bawasannya semua pelajaran itu
penting namun apalagi yang bisa membuat anak anak di Negara ini bisa terus
berkembang namun tidak hanya berkembang di dalam ilmunya tapi juga karakternya.
Mata pelajaran yang kelihatannya sepele janganlah diabaikan tapi didalami
karena karakter bisa terbentuk disitu, ya seperti yang saya bahas diatas. Namun
juga tidak hanya itu seperti Bahasa Indonesia, ini juga sangat penting. Sebab
pelajaran ini saya rasa adalah induk dari semua mata pelajaran, didalamnya
banyak pengertian tentang berbahasa atau komunikasi yang baik dengan orang
lain, tidak hanya itu pula banyak profesi utamanya dinegara Indonesia yang
memerluka cara bahasa yang baik dan benar, seperti contohnya saja penulis,
musisi, actor, begitu pula dengan guru.
Ada
pula beberapa landasan-landasan pendidikan yang harus dikuasai seorang pendidik
agar keharmonisan didalam kelas bisa terwujud dengan baik. Aspek-aspek tersebut
seperti IPTEK, Psikologis, Sosiologis, dan juga Filosofi. Dari landasan-landasan
tersebut IPTEK merupakan satu hal yang wajid dikuasai seorang pendidik tanpa
itu seorang pendidik takakan bisa menjadi seseorang yang hebat dimata peserta
didik. IPTEK atau bahan ajaran bisa didapat dari manapun, dari buku, dari
internet, ataupun dari seseorang yang
lebih mengerti dibidangnya, tergantung pengajar dapat dari mana bahan yang mau
disampaikan kepada peserta didik, asal mereka (peserta didik) mampu menerima
dan memahaminya dengan seksama ketika materi pembelajaran disampaikan. Kadang
seorang peserta didik tidak begitu mengerti apa yang disampaikan oleh seorang
pengajar dan seketika mereka bosan dengan apa yang disampaikan oleh pengajar,
dalam hal ini pengajar harus sekreatif mungkin ketika menyampaikan materi,
semisal tak memberika terus menerus materi, adakalanya seorang pendidik juga
memberikan motivasi dalam bentuk cerita, hal itu akan langsung bisa dirasakan
peserta didik. Landasan yang lain seperti sosoiologis perlu dikembangkan juga,
karena pada dasrnya manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa
adanya orang lain, contoh paling sederhana saat berada didalam ruangan kelas
yaitu interaksi antara guru dan murid. Dengan demikian sikap sekap seperti egois
tidak diharapkan muncul ketika mereka sudah
merasa dewasa nantinya. Pendidik setidaknya juga harus memiliki wawasan
tentang psikologis agar perkembangan
kejiwaan seorang peserta didik bisa diketahui, banyak masalah yang dialami pada
peserta didik dan pengajar harusnya bisa tau hal tersebut. Pendekatan pada
peserta didik yang sedang terkena masalah juga bisa menjadi solusi yang bisa
diterapkan pengajar, mungkin dengan memancing peserta didik agar mau
menceritakan masalah yang dialaminya. Saat
masalah terpecahkan maka suasana kelas akan kembali kondusif seperti
biasanya. Dari beberapa Filosofis merupakan aspek yang menopang landasan
landasan diatas tersebut, pendidik harus menyampaikan apa yang telah mereka
pelajari, tidak hanya di satu bidang mata pelajaran tapi tentang apa yang
bernilai positif berdasarkan kenyataan atau fakta yang ada. Dengan demikian
peserta didik diharapkan mampu berpikiran positif dengan segala sesuatu yang ada.
Bawasannya
Mendiknas belum begitu siap dengan kurikulum tahun ini. Merancang kurikulum tak
semudah apa yang dibayangkan. Sebaiknya kita tidak harus berfikiran negatif
terlebih dahulu. Mendiknas mungkin membutuhkan tanggapan-tanggapan dari kita
semua untuk kurikulum mendatang akan tetapi masalahnya bagaimana cara menampun
suara suara masyarakat Indonesia tentang menanggapi kurikulum ditahun ini. Kesemrawutan
kurikulum tahun ini harus segera juga dituntaskan karena ancamnnya begitu besar
dari karakter peserta didik sampai pengajar pun masuk kedalamnya, landasan-landasan
pendidikan juga harus dipertimbangkan
dalam membuat kurikulum. Keselarasan pendidik dan peserta didik seharusnya bisa
tercapai juga ketika kirikulum sudah benar-benar matang. Sampai kapanpun pendidikan tidak akan
berakhir meski kurikulum yang semrawut ini terjadi di Negara kita saat ini. Harapannya
setiap insan pasti akan bisa menyelamatkan pendidikan dimasa mendatang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar